Ketika Kehilangan Peran, Hidup Terasa Kehilangan Arah
"Kehilangan peran sering terasa seperti kehilangan tempat berpijak. Bukan karena hidup berhenti, tetapi karena arah yang biasa diikuti tiba-tiba menghilang."
Hari tetap berjalan seperti biasa. Matahari tetap terbit, waktu terus bergerak. Namun di dalam diri, muncul pertanyaan yang pelan tapi berat: sekarang harus menjadi siapa, dan harus melangkah ke mana.
Peran Memberi Struktur pada Hidup
Peran bukan hanya tentang pekerjaan atau tanggung jawab. Di dalamnya ada rutinitas, ada tujuan, dan ada rasa dibutuhkan.
Saat peran masih ada, hari terasa punya bentuk. Bangun pagi dengan agenda, pulang dengan rasa lelah yang bisa dimengerti. Ada tempat untuk merasa berguna, ada perasaan bahwa kehadiran memberi arti.
Ketika peran itu hilang, struktur hari ikut berubah. Waktu menjadi longgar, tetapi tidak selalu terasa ringan. Justru di ruang kosong itulah kebingungan sering muncul.
Kehilangan Peran Adalah Bentuk Kehilangan yang Nyata
Tidak Selalu Disadari, Tapi Sangat Terasa
Banyak perubahan hidup datang tanpa upacara perpisahan. Pensiun, anak yang mandiri, kondisi tubuh yang berubah, atau kehilangan orang tercinta. Semua itu menggeser posisi seseorang dalam hidupnya sendiri.
Di luar, orang mungkin melihatnya sebagai hal yang wajar. Namun di dalam, ada rasa seperti kehilangan bagian dari diri.
Perasaan ini sering tidak diucapkan karena takut dianggap berlebihan. Padahal, kehilangan peran menyentuh harga diri dan rasa berarti. Itu bukan hal kecil.
Ketika Rasa Tidak Dibutuhkan Mulai Muncul
Saat peran berubah, rasa dibutuhkan sering ikut memudar. Bukan karena tidak ada orang di sekitar, tetapi karena tidak lagi berada di pusat kebutuhan siapa pun.
Dulu ada yang menunggu, membutuhkan, atau bergantung. Sekarang, hidup terasa lebih sunyi dan lebih sepi makna.
Di titik ini, banyak yang mulai mempertanyakan nilai diri. Bukan karena ingin dipuji, tetapi karena ingin merasa tetap berarti.
Mencari Pijakan Baru Membutuhkan Waktu
Tidak semua orang langsung menemukan arah baru setelah peran lama berakhir. Ada masa di mana hidup dijalani sambil mencoba, sambil ragu, sambil bertanya.
Masa ini sering terasa tidak nyaman. Namun sebenarnya, ini adalah masa penyesuaian yang penting. Diri sedang belajar hidup dengan bentuk yang berbeda.
Pelan-pelan, makna mulai bergeser. Nilai diri tidak lagi hanya diukur dari fungsi, tetapi juga dari keberanian untuk tetap hadir, merawat diri, dan menjalani hari dengan sadar.
Menjadi Diri Lagi dalam Versi yang Berubah
Menjadi diri lagi bukan berarti kembali seperti dulu. Karena hidup memang tidak bisa diputar ulang.
Menjadi diri lagi berarti menerima bahwa diri sudah berubah, dan tetap memilih untuk hidup dengan penuh perhatian di fase ini.
Mungkin tempat berpijak yang lama memang sudah pergi. Namun bukan berarti tidak ada pijakan baru yang bisa dibangun. Hanya saja, pijakan itu perlu waktu untuk ditemukan.

Komentar
Posting Komentar