Mungkin Cemas Tidak Harus Hilang
“Mungkin damai bukan ketika kecemasan tidak lagi datang, tetapi ketika ia datang dan tidak lagi memegang kendali.”
Mungkin Cemas
Tidak Harus Hilang
Ada masa ketika hidup terasa baik-baik saja, tetapi entah mengapa hati tetap tidak tenang. Tidak ada masalah besar. Tidak ada kabar buruk. Hari berjalan seperti biasa.
Namun kepala sudah memikirkan banyak kemungkinan.
Bagaimana kalau nanti begini?
Bagaimana kalau ternyata begitu?
Bagaimana kalau sesuatu yang belum terjadi ternyata benar-benar terjadi?
Satu pertanyaan melahirkan pertanyaan lain. Satu kemungkinan membuka kemungkinan berikutnya.
Lalu tanpa sadar, yang sedang dijalani bukan lagi hari ini. Yang dijalani adalah banyak sekali kemungkinan tentang hari esok.
Ketika Pikiran Terlalu Rajin Bekerja
Ada orang yang memang senang memikirkan banyak hal.
Satu hal bisa mengingatkan pada hal lain. Sebuah percakapan bisa membawa pada pengalaman lama. Sesuatu yang terlihat sederhana bisa membuka pertanyaan yang panjang.
Kemampuan seperti ini sebenarnya tidak selalu buruk.
Ia membuat seseorang peka terhadap banyak kemungkinan. Membantu melihat hubungan yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain.
Masalahnya muncul ketika pikiran tidak tahu kapan harus berhenti. Berpikir yang tadinya membantu mulai melelahkan.
Cemas Juga Punya Gunanya
Mungkin selama ini kecemasan terlalu sering dianggap sebagai sesuatu yang harus segera disingkirkan. Padahal rasa cemas juga bisa mengingatkan untuk berhati-hati.
Ia membuat seseorang memeriksa kembali. Membuat persiapan. Mengingatkan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Yang menjadi masalah bukan selalu keberadaan rasa cemasnya. Mungkin yang perlu diperhatikan adalah ketika kecemasan mulai mengambil alih seluruh perjalanan.
Seperti alarm yang seharusnya berbunyi ketika ada bahaya, tetapi akhirnya berbunyi hampir sepanjang hari.
Tidak Semua Hal Harus Dipastikan
Ada hal-hal yang memang bisa dipersiapkan. Ada yang bisa direncanakan. Ada yang bisa dicegah. Tetapi ada pula yang memang berada di luar kemampuan manusia untuk mengetahui dan mengendalikan.
Di sinilah mungkin manusia perlu belajar berhenti sebentar. Bukan berhenti peduli. Bukan berhenti waspada. Hanya berhenti mencoba mengendalikan sesuatu yang memang belum menjadi miliknya.
Karena hidup selalu menyisakan bagian yang tidak diketahui.
Tenang Bukan Berarti Tanpa Cemas
Mungkin ketenangan selama ini terlalu sering dibayangkan sebagai keadaan ketika hati sama sekali tidak takut. Padahal manusia tetap bisa takut dan tetap menjalani hidup.
Tetap cemas dan tetap bekerja. Tetap khawatir dan tetap makan siang. Tetap memikirkan kemungkinan buruk, tetapi masih bisa menikmati secangkir kopi.
Ketenangan mungkin bukan hilangnya semua rasa tidak nyaman. Mungkin ketenangan adalah ketika rasa itu ada, tetapi tidak menentukan seluruh cara menjalani hari.
Cukup Tahu Kapan Harus Kembali
Ketika pikiran mulai pergi terlalu jauh, mungkin tidak selalu perlu dilawan. Cukup kembali. Kembali kepada apa yang sedang ada di depan mata.
Kopi yang masih hangat. Pekerjaan yang sedang dikerjakan. Orang yang sedang diajak bicara. Langit yang sedang terlihat. Napas yang masih keluar masuk. Hari ini. Bukan semua kemungkinan tentang hari esok.
Ada Hal yang Bisa Diupayakan, Ada yang Perlu Diserahkan
Hidup memang membutuhkan ikhtiar. Tetapi ikhtiar tidak berarti manusia harus mengetahui seluruh hasil akhirnya.
Ada bagian yang perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh. Ada bagian yang akhirnya harus diserahkan kepada Allah. Mungkin di situlah damai perlahan tumbuh.
Bukan karena semua sudah pasti aman. Tetapi karena ada kesadaran bahwa manusia memang memiliki batas. Dan mengetahui batas itu bukan kelemahan. Justru mungkin di situlah seseorang belajar berserah tanpa berhenti berusaha.
Mungkin Besok Tetap Akan Ada Kecemasan
Mungkin setelah tulisan ini selesai, kecemasan tetap datang.
Besok mungkin kepala kembali membuat banyak kemungkinan. Tidak apa-apa. Tidak semua hal harus selesai hari ini. Tidak semua rasa harus dihilangkan agar hidup bisa berjalan.
Kadang cukup berkata dalam hati:
“Aku tahu kamu sedang mengingatkanku untuk berhati-hati. Terima kasih. Sekarang biarkan aku menjalani hari ini dulu.”
Lalu tarik napas panjang. Minum kopi. Lihat pagi. Dan lanjutkan hidup. Karena mungkin damai bukan tentang hidup yang akhirnya bebas dari kecemasan.
Damai adalah
ketika kecemasan tetap ada, tetapi ia tidak lagi menjadi pengemudi.
Ilustrasi: Koleksi Makna dan Kreatif, dibuat dengan bantuan AI.

Komentar
Posting Komentar