Ternyata Kita Tidak Harus Tahu

 

Sumber Gambar: Canva Edited

“Mungkin kita tidak selalu perlu tahu akan menjadi siapa. Kadang kita baru mengenal diri setelah berani menjalani.”

Kemarin saya menonton Julie & Julia.

Film lama sebenarnya. Tapi entah kenapa setelah selesai menonton, saya malah kepikiran tentang sesuatu yang cukup dekat dengan kehidupan kita.

Tentang bagaimana kita menjalani hidup ketika kita sendiri belum tahu akan menjadi apa.

Kita sering ditanya:

“Sekarang mau ke mana?”

“Rencananya apa?”

“Lima tahun lagi mau jadi apa?”

Pertanyaan-pertanyaan itu kelihatannya biasa.

Tapi kadang membuat kita diam.

Karena tidak semua orang punya jawabannya.

Dan semakin bertambah usia, rasanya semakin tidak enak kalau mengaku, “Saya juga belum tahu.”


Hidup Seolah Harus Punya Rencana

Kita sering merasa terlambat

Ada usia tertentu ketika kita mulai merasa harus sudah tahu semuanya.

Harus sudah punya pekerjaan yang jelas.

Harus sudah tahu mau tinggal di mana.

Harus punya pencapaian.

Harus tahu apa yang kita inginkan.

Sementara hidup tidak selalu berjalan seperti daftar rencana.


Ada orang yang baru menemukan pekerjaannya setelah berkali-kali berganti.

Ada yang baru menemukan hal yang disukai ketika usianya tidak lagi muda.

Ada yang merasa sudah menemukan arah, lalu beberapa tahun kemudian sadar bahwa arah itu ternyata bukan lagi miliknya.

Dan mungkin itu bukan kegagalan.

Mungkin memang begitu cara hidup bekerja.


Kita melihat hasil orang lain, bukan seluruh perjalanannya

Masalahnya, kita sering melihat orang lain dari tempat mereka sudah sampai.

Kita melihat seseorang berhasil membuka usaha.

Melihat orang lain menulis buku.

Melihat teman pindah ke kota yang diimpikannya.

Melihat seseorang tampak begitu yakin dengan hidupnya.


Lalu diam-diam bertanya:

“Kenapa saya belum seperti itu?”

Padahal kita tidak melihat berapa kali mereka bingung.

Tidak melihat berapa banyak percobaan yang gagal.

Tidak melihat malam-malam ketika mereka juga bertanya apakah sedang mengambil jalan yang benar.


Kita membandingkan halaman hidup kita yang masih penuh coretan dengan halaman orang lain yang sudah mereka pilih untuk ditampilkan.

Tentu saja terasa tidak adil.


Saya Jadi Ingat Julia Child

Yang saya sukai dari Julie & Julia bukan hanya soal memasak.

Ada sesuatu yang lebih sederhana dari perjalanan Julia Child.


Ia tidak seperti seseorang yang sejak awal sudah memegang peta kehidupan lengkap.

Ia mencoba.

Belajar.

Gagal.

Mencoba lagi.

Lalu menemukan sesuatu yang ternyata cocok dengannya.

Dan dari situ hidupnya berkembang ke arah yang mungkin tidak pernah bisa ia bayangkan sejak awal.


Saya suka gagasan itu.

Karena mungkin kita terlalu sering mengira bahwa kita harus menemukan diri sendiri sebelum mulai berjalan.


Padahal mungkin sebaliknya.

Kita berjalan dulu.

Lalu sedikit demi sedikit mengenal siapa diri kita.


Ada hal-hal yang baru kita tahu setelah menjalaninya

Kita tidak selalu tahu bahwa kita menyukai sesuatu sebelum mencobanya.

Kita tidak selalu tahu bahwa kita kuat sampai keadaan memaksa kita bertahan.

Kita tidak selalu tahu bahwa sebuah peran ternyata sangat berarti sampai suatu hari peran itu berubah.

Kita bahkan kadang baru tahu apa yang sebenarnya penting setelah kehilangan sesuatu.

Jadi mungkin pengalaman hidup bukan hanya sesuatu yang kita jalani.

Ia juga sesuatu yang membentuk cara kita mengenal diri sendiri.


Bagaimana Kalau Kita Tidak Perlu Kembali?

Ada satu hal lain yang belakangan sering saya pikirkan.

Ketika hidup berubah, kita kadang ingin kembali menjadi diri kita yang dulu.


Dulu lebih berani.

Dulu lebih aktif.

Dulu lebih produktif.

Dulu tubuh lebih kuat.

Dulu hidup terasa lebih sederhana.

Lalu kita berkata:

“Saya ingin menjadi diri saya lagi.”

Tapi “lagi” itu sebenarnya berarti apa?

Apakah kita benar-benar ingin kembali?


Karena kita sudah membawa terlalu banyak hal dari perjalanan yang telah dilewati.

Pengalaman.

Kehilangan.

Kesalahan.

Hubungan.

Usia.

Pengetahuan.

Dan mungkin juga luka yang membuat kita melihat dunia dengan cara yang berbeda.


Saya mulai berpikir bahwa menjadi diri sendiri tidak selalu berarti kembali kepada diri yang dulu.

Mungkin menjadi diri sendiri berarti mengenali siapa kita sekarang.


Mungkin Kita Sedang Menjadi

Tidak semua perubahan berarti kehilangan diri

Ada perubahan yang awalnya terasa seperti kehilangan.

Ketika anak mulai mandiri.

Ketika pekerjaan berubah.

Ketika tubuh tidak lagi sama.

Ketika rumah menjadi lebih sepi.

Ketika kita tidak lagi memiliki peran yang dulu membuat kita merasa dibutuhkan.


Wajar kalau kita bertanya:

“Kalau saya bukan yang dulu, lalu saya siapa?”

Mungkin jawabannya tidak perlu ditemukan hari itu juga.

Kita bisa menjalani hari.

Pelan-pelan.

Mengenal diri yang sekarang.

Menerima bahwa ada bagian yang berubah dan ada bagian yang masih tinggal.


Hidup tidak harus selalu terasa jelas

Saya juga mulai belajar bahwa tenang tidak selalu berarti kita sudah tahu jawabannya.

Kadang kita bisa tenang justru karena menerima bahwa kita belum tahu.

Besok bagaimana?

Belum tahu.

Beberapa tahun lagi menjadi apa?

Belum tahu.

Apakah semua rencana akan berhasil?

Belum tentu.

Tapi hari ini ada yang bisa dilakukan.

Ada pekerjaan yang perlu diselesaikan.

Ada tubuh yang perlu dirawat.

Ada orang yang perlu disayangi.

Ada kewajiban yang perlu ditunaikan.

Ada waktu untuk beristirahat.


Dan bagi saya sebagai seorang Muslim, ada satu hal yang membuat ketidakpastian itu tidak terasa sepenuhnya kosong:

Saya mungkin tidak tahu akan menjadi siapa.

Tetapi saya tahu kepada siapa saya akan kembali.


Kita Tidak Harus Mengetahui Semuanya

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari jawaban tentang diri sendiri.

Siapa saya?

Apa tujuan saya?

Apa yang sebenarnya saya inginkan?

Saya tidak mengatakan pertanyaan-pertanyaan itu tidak penting.

Justru penting.

Tetapi mungkin sebagian jawabannya tidak akan muncul hanya karena kita duduk dan memikirkannya.

Sebagian mungkin muncul ketika kita menjalani kehidupan.

Ketika mencoba.

Ketika gagal.

Ketika berubah.

Ketika kehilangan.

Ketika memulai lagi.


Dan mungkin, suatu hari nanti, kita menoleh ke belakang dan baru menyadari:

“Oh… ternyata perjalanan itu yang membuat saya menjadi saya.”

Saya tidak tahu apakah Julia Child pernah membayangkan seluruh perjalanan hidupnya sejak awal.


Mungkin tidak.

Tapi mungkin memang bukan itu yang dibutuhkan.

Kita hanya perlu menjalani bagian yang ada di depan kita.

Dengan sungguh-sungguh.

Dengan tetap belajar.

Dengan tetap beribadah.

Dengan tetap menikmati hal-hal kecil yang Allah berikan hari ini.

Dan ketika hidup kembali berubah, kita belajar mengenali diri kita sekali lagi.


Karena mungkin menjadi diri sendiri bukan tentang menemukan satu versi diri yang paling sempurna lalu mempertahankannya selamanya.

Mungkin menjadi diri sendiri adalah terus mengenali siapa kita, sementara hidup terus mengajarkan kita untuk menjadi.

Dan selama kita belum tahu seluruh jawabannya, mungkin tidak apa-apa.


Kita tetap berjalan.

Toh, kita tidak sedang menuju tempat yang tidak diketahui sama sekali.

Kita tahu kepada siapa akhirnya kita akan pulang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kehidupan dan Harapan yang Tidak Berisik

Memaafkan Diri dan Pulang Utuh (3)

Lelah Hari Ini, Berjuang Lagi