Tidak Harus Selalu Merasa Kurang

 

“Menghargai diri bukan berarti meninggikan diri. Kadang, itu hanya tentang mengakui bahwa sebuah usaha memang layak disyukuri.”

 Ada kebiasaan kecil yang sering tidak disadari. Sesuatu yang sudah dilakukan dengan baik segera dianggap biasa.

Sebuah pencapaian baru saja terjadi, tetapi pikiran sudah berlari mencari kekurangan berikutnya. Selesai mengerjakan sesuatu, yang terlihat justru bagian yang belum sempurna.

Sudah berusaha keras, tetapi masih terdengar suara kecil yang berkata,

“Seharusnya bisa lebih baik.”

Mungkin karena itu banyak orang tumbuh dengan perasaan tidak pernah cukup.

 Bukan karena tidak melakukan apa-apa. Justru karena terlalu terbiasa melihat apa yang belum berhasil, sampai lupa melihat apa yang sudah dilewati.

Padahal, sesekali berhenti untuk menghargai diri sendiri tidak membuat seseorang menjadi sombong.

Ada perbedaan antara meninggikan diri dan menghargai diri. Yang satu ingin terlihat lebih tinggi daripada orang lain. Yang lainnya hanya ingin memberikan penghormatan kecil kepada diri yang sudah berusaha.

 Ketika Pencapaian Terasa Biasa

“Memang sudah seharusnya begitu”

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, jika terlalu sering digunakan kepada diri sendiri, ia bisa membuat banyak hal baik kehilangan maknanya.

Berhasil menyelesaikan sesuatu dianggap kewajiban. Berhasil melewati masa sulit dianggap kebetulan.

Berhasil belajar sesuatu yang baru dianggap belum seberapa. Bahkan ketika sebuah langkah membutuhkan keberanian yang besar, hasil akhirnya tetap saja dianggap biasa.

Padahal tidak semua orang mengetahui berapa panjang perjalanan yang diperlukan untuk sampai pada satu titik.

Ada perjuangan yang tidak terlihat. Ada malam-malam panjang yang tidak diceritakan. Ada keraguan yang berhasil dilewati diam-diam.

Dan ada begitu banyak usaha kecil yang akhirnya berkumpul menjadi sebuah pencapaian.

Tidak semua pencapaian harus besar

Kadang pencapaian hanya berupa bangun dan menjalani hari ketika hati sedang tidak ingin melakukan apa-apa.

Kadang berupa keberanian mencoba lagi setelah mengalami kegagalan. Kadang berupa kemampuan menahan sebuah respons yang dulu mudah sekali keluar. Kadang berupa keputusan untuk belajar. Kadang hanya berupa satu langkah kecil yang dahulu terasa terlalu berat.

Tidak semuanya akan mendapatkan tepuk tangan. Tidak semuanya layak dipajang. Tetapi bukan berarti tidak berharga.

Ada pencapaian yang memang hanya perlu diketahui oleh diri sendiri.

Menghargai Diri Tanpa Meninggikan Diri

Tidak perlu membandingkan

 Menghargai diri tidak membutuhkan pembanding.

Tidak harus lebih pintar daripada orang lain. Tidak harus lebih berhasil. Tidak harus memiliki pencapaian yang lebih besar. Sebab penghargaan terhadap diri sendiri sebenarnya bukan perlombaan.

Tidak ada kebutuhan untuk berkata,

“Aku lebih baik daripada mereka.”

Cukup mengatakan,

“Untuk perjalanan sejauh ini, terima kasih karena sudah berusaha.”

Kalimat sederhana seperti itu mungkin terdengar kecil. Tetapi bagi seseorang yang bertahun-tahun terbiasa mengkritik dirinya sendiri, mungkin justru terasa seperti udara segar.

Berhenti sebentar sebelum mencari kekurangan

Ada baiknya sesekali tidak langsung bertanya,

“Apa lagi yang kurang?”

Cobalah memberi jeda.

Apa yang sudah berhasil dilakukan?

Apa yang dahulu terasa sulit tetapi sekarang sudah menjadi biasa?

Apa yang pernah ditakuti tetapi akhirnya mampu dilewati?

Apa yang dulu hanya menjadi keinginan dan sekarang sudah menjadi kenyataan?

Mungkin ada lebih banyak jawaban daripada yang selama ini disadari.

Hanya saja, semuanya tertutup oleh kebiasaan melihat kekurangan.

Setelah Menghargai, Jangan Lupa Bersyukur

 Pencapaian bukan alasan untuk merasa lebih tinggi

Ada satu cara yang membuat penghargaan terhadap diri tetap berada di tempat yang tenang: syukur.

 Sebuah keberhasilan boleh dirasakan.

Sebuah pencapaian boleh membuat hati bahagia.

Diri sendiri boleh mendapatkan apresiasi.

Namun setelah itu, hati dapat kembali mengingat bahwa kemampuan untuk berusaha, kesempatan untuk belajar, kesehatan, waktu, pertolongan, bahkan pertemuan dengan orang-orang baik bukan sesuatu yang sepenuhnya berada dalam kendali manusia.

Ada begitu banyak nikmat yang datang tanpa pernah diminta.

Maka kalimat,

“Alhamdulillah.”

bisa menjadi tempat pulang yang sederhana. 

Meminta agar nikmat ditambahkan

Bersyukur juga tidak berarti berhenti berharap. Setelah menerima sesuatu yang baik, masih boleh meminta agar kebaikan itu ditambahkan.

Bukan karena tidak pernah merasa cukup. Justru karena menyadari bahwa setiap nikmat begitu berharga sehingga ingin menjaganya dengan baik.

Keberhasilan dapat disyukuri. Kemudian dimohonkan keberkahannya.

Kemampuan dapat dihargai. Kemudian dimohonkan agar digunakan untuk kebaikan.

Kesempatan dapat diterima. Kemudian dimohonkan agar dibukakan jalan yang lebih baik.

Dengan begitu, penghargaan terhadap diri tidak berhenti pada diri sendiri. Ia berubah menjadi rasa syukur.

Mungkin Diri Sendiri Juga Perlu Dipeluk

Ada hari ketika semuanya terasa kurang.

Pekerjaan belum selesai. Rencana belum berjalan. Target belum tercapai. Kesalahan masih teringat. Masa depan belum jelas.

Pada hari seperti itu, mungkin tidak perlu menambahkan satu orang lagi yang ikut memarahi diri sendiri.

Dunia sudah cukup ramai. Pikiran sudah cukup sibuk. Barangkali yang dibutuhkan hanya jeda.

Tarik napas panjang. Pelankan sedikit langkah. Lalu lihat kembali perjalanan yang sudah ditempuh.

Tidak semuanya indah. Tidak semuanya berhasil. 

Ada keputusan yang keliru. Ada kesempatan yang terlewat. Ada bagian hidup yang mungkin masih membuat sedih.

Tetapi bukankah tetap ada banyak hal yang berhasil dilewati?

Bukankah diri yang sekarang sudah berbeda dari diri beberapa tahun yang lalu?

Mungkin belum menjadi seperti yang diharapkan.

Tidak apa-apa.

Menjadi lebih baik tidak harus dimulai dengan membenci diri yang sekarang.

Bisa dimulai dengan menghargainya. 

Karena Sudah Berusaha Sebaik Mungkin

Tidak semua hasil akan sesuai dengan usaha. Itulah salah satu hal yang paling sulit diterima dalam hidup. Kadang sudah bekerja keras tetapi hasilnya belum datang.

Sudah berhati-hati tetapi tetap melakukan kesalahan. Sudah mencoba berkali-kali tetapi masih gagal. Namun usaha yang belum menghasilkan sesuatu bukan berarti usaha itu sia-sia.

Ada pengalaman yang tertinggal. Ada keberanian yang tumbuh. Ada kesabaran yang terbentuk. Ada bagian diri yang menjadi lebih kuat.

Maka ketika sebuah pencapaian datang, sekecil apa pun, tidak ada salahnya berhenti sebentar.

Bukan untuk membanggakan diri. Bukan untuk merasa lebih tinggi.

Hanya untuk berkata:

“Alhamdulillah. Ternyata sudah sampai sejauh ini.”

Kemudian tersenyum. Menarik napas. Mengucap syukur. Dan setelah hati cukup tenang, barulah melanjutkan perjalanan.

Sebab hidup tidak harus selalu diisi dengan mengejar sesuatu yang belum dimiliki.

Ada saatnya menikmati sesuatu yang sudah diberikan. Ada saatnya menghargai kepingan yang sudah berhasil ditemukan. Ada saatnya menyadari bahwa perjalanan ini memang belum selesai, tetapi bukan berarti perjalanan yang sudah ditempuh tidak layak dihargai. Tidak harus selalu merasa kurang untuk tetap bertumbuh.

Kadang, seseorang justru tumbuh lebih sehat ketika mampu berkata:

“Ini sudah menjadi usaha terbaik untuk hari ini. Alhamdulillah.”

Lalu besok mencoba lagi. Pelan-pelan. Tanpa perlu menjadi siapa-siapa selain diri yang terus belajar menjadi lebih baik.


Ilustrasi: Koleksi Makna dan Kreatif, dibuat dengan bantuan AI.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kehidupan dan Harapan yang Tidak Berisik

Memaafkan Diri dan Pulang Utuh (3)

Ada Waktu untuk Tidak Melakukan Apa-Apa