Ketika Kita Tidak Perlu Melawan Semua Perasaan

“Perasaan tidak selalu datang untuk mengganggu kita. Kadang ia datang membawa sesuatu yang perlu kita dengarkan.”

Ada Perasaan yang Ingin Segera Kita Hilangkan

Kita mungkin sudah terbiasa dengan kalimat-kalimat seperti:

“Jangan sedih.”

“Jangan marah.”

“Jangan dipikirkan.”

“Sudahlah, lupakan saja.”

“Harus kuat.”

“Jangan baper.”

“Coba berpikir positif.”

Kalimat-kalimat itu kadang memang dimaksudkan untuk membantu.

Tetapi saya mulai bertanya-tanya:

Apa semua perasaan memang harus segera kita hilangkan?

Kalau sedang sedih, apakah kita harus segera mencari cara supaya tidak sedih?

Kalau kecewa, apakah kita harus segera mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja?

Kalau marah, apakah kita harus langsung memaksa diri untuk tenang?

Kalau terluka, apakah kita harus segera memaafkan dan melupakan?

Mungkin tidak selalu.

Mungkin ada saat ketika perasaan tidak perlu langsung diselesaikan.

Mungkin ia perlu didengarkan terlebih dahulu.

Emosi Tidak Selalu Datang untuk Menjadi Musuh

Marah mungkin sedang mengatakan sesuatu

Bayangkan seseorang mengatakan sesuatu yang membuat kita marah.

Kita mungkin langsung berpikir,

“Saya tidak boleh marah.”

Padahal kemarahan itu mungkin membawa informasi.

Mungkin kita merasa tidak dihargai.

Mungkin ada batas yang dilanggar.

Mungkin kita sudah terlalu lama menahan sesuatu.

Mungkin ada kebutuhan yang tidak terpenuhi.

Tentu saja, kemarahan tidak selalu berarti kita benar.

Kita bisa salah memahami keadaan.

Kita bisa terlalu sensitif pada saat tertentu.

Kita bisa membawa luka lama ke dalam situasi yang baru.

Karena itu, marah bukan bukti bahwa orang lain pasti salah.

Tetapi marah bisa menjadi petunjuk bahwa ada sesuatu yang perlu kita perhatikan.

Sedih juga bisa membawa informasi

Begitu pula dengan kesedihan.

Kalau kita kehilangan sesuatu yang berarti, tentu saja kita sedih.

Kalau seseorang yang kita sayangi berubah, kita mungkin merasa kehilangan.

Kalau harapan kita tidak terjadi, kita kecewa.

Kalau sebuah hubungan berakhir, ada bagian dari diri kita yang mungkin membutuhkan waktu untuk memahami kenyataan itu.

Tidak semua kesedihan perlu segera diperbaiki.

Kadang kita hanya perlu mengakui:

“Ya, ini memang menyakitkan bagi saya.”

Dan ternyata mengatakan kalimat sederhana itu bisa menjadi awal yang penting.

Mengamati Bukan Berarti Terus-Menerus Memikirkan

Ada perbedaan antara mengamati dan tenggelam

Ini bagian yang menurut saya penting.

Mengamati emosi bukan berarti duduk berjam-jam memikirkan:

“Kenapa saya begini?”

“Kenapa dia melakukan itu?”

“Seharusnya tadi saya menjawab apa?”

“Bagaimana kalau kejadian itu tidak terjadi?”

Kalau kita terus berputar dalam pikiran yang sama, kita mungkin bukan sedang mengamati emosi.

Kita sedang terseret olehnya.

Mengamati lebih sederhana.

Misalnya:

“Saya sedang marah.”

Lalu kita berhenti sebentar.

Apa yang sebenarnya membuat saya marah?

Apa yang saya rasakan di tubuh?

Apakah saya merasa disakiti?

Apakah saya merasa tidak dihargai?

Apakah saya sedang lelah?

Apakah ada kejadian lain yang membuat perasaan ini menjadi lebih besar?

Kita tidak harus langsung mendapatkan jawabannya.

Kita hanya mulai memperhatikan.

Memberi Nama pada Perasaan

Kadang kita mengatakan,

“Saya sedang tidak enak.”

Padahal di balik kalimat itu bisa ada banyak hal.

Mungkin sebenarnya kita kecewa.

Atau takut.

Atau malu.

Atau merasa ditolak.

Atau kesepian.

Atau iri.

Atau terluka.

Atau merasa tidak dihargai.

Semakin kita bisa mengenali perasaan dengan lebih spesifik, semakin mudah kita memahami apa yang sedang terjadi.

Bukan:

“Saya sedang buruk.”

Tetapi:

“Saya sedang kecewa.”

Bukan:

“Saya memang orang yang pemarah.”

Tetapi:

“Saat ini saya sedang sangat marah.”

Ada perbedaan besar di antara keduanya.

Kita memiliki emosi. Kita bukan emosi itu.

Marah bisa datang.

Sedih bisa datang.

Takut bisa datang.

Kemudian suatu saat ia bisa pergi.

Lalu Apa Artinya Memvalidasi Perasaan?

Validasi kadang terdengar seperti istilah psikologi yang rumit.

Padahal dasarnya sederhana:

mengakui bahwa perasaan itu memang sedang terjadi dan memiliki alasan untuk muncul.

Misalnya:

“Saya kecewa karena saya berharap banyak.”

“Saya sedih karena kehilangan sesuatu yang penting.”

“Saya marah karena merasa tidak dihargai.”

“Saya takut karena keadaan ini tidak pasti.”

Kita tidak sedang mengatakan bahwa semua pikiran kita benar.

Kita juga tidak sedang mengatakan bahwa orang lain pasti bersalah.

Kita hanya mengatakan:

“Ya, inilah yang sedang saya rasakan.”

Dan kita tidak perlu mempermalukan diri sendiri karena merasakannya.

Memvalidasi Bukan Berarti Membenarkan Semua Tindakan

Ini perbedaan yang sangat penting.

Kita bisa mengatakan:

“Saya marah.”

Tanpa mengatakan:

“Karena saya marah, saya boleh menyakiti orang lain.”

Kita bisa mengatakan:

“Saya sangat kecewa.”

Tanpa mengatakan:

“Karena saya kecewa, saya boleh menghancurkan semuanya.”

Perasaan dan tindakan adalah dua hal yang berbeda.

Kita tidak selalu bisa memilih perasaan pertama yang muncul.

Tetapi kita masih bisa belajar memilih apa yang kita lakukan setelah menyadarinya.

Mungkin kita perlu diam sebentar.

Mungkin menunda percakapan.

Mungkin berjalan keluar sebentar.

Mungkin menulis dulu.

Mungkin berbicara dengan orang yang dipercaya.

Mungkin meminta bantuan.

Mengakui emosi justru bisa memberi kita sedikit jarak sebelum bertindak.

Kadang Tubuh Lebih Dulu Mengetahui

Ada kalanya kita belum bisa mengatakan,

“Saya sedang marah.”

Tetapi tubuh sudah memberikan tanda.

Dada terasa sesak.

Rahang mengeras.

Tangan mengepal.

Bahu menegang.

Perut terasa tidak nyaman.

Napas menjadi pendek.

Atau kita tiba-tiba ingin menjauh dari semua orang.

Tubuh mungkin sedang memberi tahu bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi.

Kita tidak harus langsung menafsirkannya dengan benar.

Cukup berhenti sebentar dan bertanya:

“Apa yang sedang terjadi pada saya?”

Bukan untuk menghakimi.

Hanya untuk melihat.

Tidak Semua Emosi Harus Segera Diubah Menjadi Positif

Kita terlalu cepat ingin menemukan hikmahnya

Kadang ketika seseorang sedang sedih, kita langsung berkata:

“Pasti ada hikmahnya.”

Mungkin benar.

Tetapi mungkin orang tersebut belum membutuhkan hikmah hari itu.

Mungkin ia hanya membutuhkan ruang untuk berkata,

“Saya sedih.”

Tanpa segera disuruh melihat sisi positifnya.

Begitu pula ketika kecewa.

Kita tidak harus langsung berkata,

“Sudahlah, pasti ada yang lebih baik.”

Mungkin nanti kita akan melihatnya seperti itu.

Tetapi hari ini mungkin memang sedang kecewa.

Dan tidak apa-apa.

Tidak semua perasaan harus segera menjadi pelajaran.

Kadang kita perlu merasakannya terlebih dahulu.

Tetapi Kita Juga Tidak Harus Tinggal di Sana Selamanya

Menerima emosi bukan berarti membiarkannya menguasai kehidupan tanpa batas.

Kalau kita sedih, kita boleh sedih.

Tetapi pada suatu titik kita juga perlu makan.

Perlu tidur.

Perlu bekerja.

Perlu berbicara dengan orang lain.

Perlu menjalani kehidupan.

Kalau kita marah, kita boleh mengakui kemarahan.

Tetapi kita tetap perlu memikirkan apa yang akan kita lakukan terhadap kemarahan itu.

Kalau kita kecewa, kita boleh mengakui kekecewaan.

Tetapi kita juga bisa perlahan bertanya:

“Sekarang, apa yang ingin saya lakukan dengan kenyataan ini?”

Menerima bukan berarti menetap.

Menerima berarti berhenti berpura-pura bahwa perasaan itu tidak ada.

Mungkin Kita Bisa Belajar Berteman dengan Perasaan

Saya suka membayangkan emosi seperti seseorang yang mengetuk pintu.

Kalau kita langsung berkata,

“Pergi!”

ia mungkin tetap mengetuk.

Kalau kita membukakan pintu dan berkata,

“Baik. Saya tahu kamu ada. Ada apa?”

mungkin kita mulai mengetahui sesuatu.

Bukan berarti kita harus mengundangnya tinggal selamanya.

Kita hanya memberi kesempatan untuk mendengarkan.

Mungkin kemarahan berkata,

“Ada sesuatu yang menurutmu tidak adil.”

Kesedihan berkata,

“Ada sesuatu yang sangat berarti bagimu dan sekarang tidak lagi sama.”

Kekecewaan berkata,

“Kamu berharap banyak.”

Ketakutan berkata,

“Ada sesuatu yang tidak kamu ketahui dan kamu tidak merasa aman.”

Rasa terluka berkata,

“Ada bagian dari dirimu yang membutuhkan perhatian.”

Tentu saja emosi tidak selalu memberikan pesan yang sempurna.

Tetapi dengan mendengarkannya, kita mendapatkan kesempatan untuk memahami diri lebih baik.

Setelah Itu, Kita Bisa Memilih

Mungkin ini tujuan akhirnya.

Bukan supaya kita tidak pernah marah.

Bukan supaya kita selalu tenang.

Bukan supaya kita menjadi orang yang tidak pernah terluka.

Tetapi supaya ada sedikit ruang antara:

apa yang kita rasakan

dan

apa yang kita lakukan.

Di ruang kecil itulah pilihan bisa muncul.

Saya marah.

Tetapi apakah saya harus membalas?

Saya kecewa.

Tetapi apakah saya harus menyerah?

Saya sedih.

Tetapi apakah saya harus menganggap hidup saya akan selalu seperti ini?

Saya terluka.

Tetapi apakah saya harus membuat orang lain terluka juga?

Ternyata mengenali emosi bukan hanya tentang menjadi lebih tenang.

Ia juga memberi kita kesempatan untuk memilih bagaimana kita ingin hidup.

Bagaimana Kalau Perasaannya Terlalu Berat?

Ada kalanya emosi terasa terlalu besar untuk kita pahami sendiri.

Kesedihan berlangsung lama dan mengganggu kehidupan sehari-hari.

Kemarahan terasa sulit dikendalikan.

Kecemasan membuat kita tidak bisa menjalani kegiatan seperti biasa.

Luka lama terus muncul dan membuat kehidupan sekarang terasa sangat berat.

Pada keadaan seperti itu, meminta bantuan bukan berarti kita gagal memahami diri.

Kita bisa berbicara dengan orang yang dipercaya atau mencari bantuan profesional.

Ada hal-hal yang memang lebih mudah dipahami ketika kita tidak harus membawanya sendirian.

Mungkin Kita Tidak Perlu Selalu Berdamai Hari Ini

Saya juga ingin berhati-hati dengan istilah “berdamai dengan emosi.”

Kadang terdengar seolah-olah setelah memahami perasaan, kita harus langsung merasa damai.

Padahal mungkin tidak.

Ada luka yang membutuhkan waktu.

Ada kehilangan yang akan tetap terasa sesekali.

Ada kemarahan yang perlu diproses perlahan.

Ada kekecewaan yang baru bisa kita terima setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Tidak apa-apa.

Berdamai mungkin bukan berarti:

“Saya sudah tidak merasakan apa-apa.”

Mungkin justru:

“Saya masih bisa mengingatnya tanpa harus terus melawannya.”

Dan itu sudah merupakan perubahan.

Untuk Hari Ini

Kalau hari ini ada perasaan yang sedang mengganggu, mungkin kita tidak perlu langsung bertanya:

“Bagaimana supaya saya cepat berhenti merasakan ini?”

Coba pertanyaan yang sedikit berbeda:

“Apa sebenarnya yang sedang saya rasakan?”

Lalu:

“Apa yang membuat perasaan ini muncul?”

Dan setelah itu:

“Apa yang saya butuhkan sekarang?”

Mungkin jawabannya adalah istirahat.

Mungkin percakapan.

Mungkin batas yang lebih jelas.

Mungkin menangis.

Mungkin meminta bantuan.

Mungkin menyelesaikan sesuatu.

Mungkin justru menerima bahwa ada hal yang tidak bisa diperbaiki.

Kita tidak harus selalu tahu jawabannya.

Kita hanya sedang belajar mengenali apa yang terjadi di dalam diri.

Sebab mungkin selama ini kita terlalu sibuk mengusir perasaan yang tidak kita sukai, sampai lupa bahwa perasaan juga merupakan bagian dari diri kita yang sedang meminta untuk dilihat.

“Saya tidak harus menyukai semua perasaan yang datang. Tetapi saya bisa belajar untuk tidak membenci diri sendiri karena merasakannya.”

Dan mungkin dari situlah sebuah hubungan yang lebih baik dengan diri sendiri mulai tumbuh:

bukan dengan menjadi orang yang tidak pernah marah, sedih, kecewa, atau terluka,

melainkan menjadi seseorang yang ketika perasaan itu datang dapat berkata,

“Baik. Saya melihatmu. Mari kita pahami apa yang sedang terjadi.”


Ilustrasi: Koleksi Makna dan Kreatif, dibuat dengan bantuan AI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kehidupan dan Harapan yang Tidak Berisik

Memaafkan Diri dan Pulang Utuh (3)

Ada Waktu untuk Tidak Melakukan Apa-Apa