Tinggal di Dalam Kehidupan yang Sedang Dijalani

 

"Mungkin hidup tidak selalu meminta untuk segera diubah. Kadang ia hanya meminta untuk ditinggali dengan lebih utuh."

Ketika Kehidupan Terlihat Tidak Seperti yang Diharapkan

Ada kehidupan yang dari luar terlihat baik-baik saja

Dari luar, sebuah kehidupan bisa terlihat baik.

Rumah ada.

Keluarga ada.

Kebutuhan sehari-hari terpenuhi.

Tidak sedang menghadapi masalah besar.

Tetapi orang yang menjalaninya mungkin merasa ada sesuatu yang hilang.

Tidak tahu apa.

Hanya merasa hidup berjalan tanpa benar-benar dirasakan.

Sebaliknya, ada kehidupan yang dari luar tampak biasa saja.

Tidak ada pekerjaan yang membanggakan.

Tidak ada pencapaian yang bisa diceritakan.

Penghasilan tidak banyak.

Hari-hari berjalan dengan kegiatan yang sederhana.

Tetapi orang yang menjalaninya mungkin justru menemukan ketenangan yang tidak terlihat dari luar.

Ukuran kehidupan tidak selalu sama

Ada kehidupan yang dianggap berhasil oleh banyak orang.

Ada yang dianggap biasa.

Ada yang bahkan mungkin dinilai sebagai kehidupan yang tidak ke mana-mana.

Namun kehidupan yang dijalani seseorang tidak pernah seluruhnya bisa dilihat dari luar.

Orang lain melihat hasil.

Yang menjalani merasakan prosesnya.

Orang lain melihat rumah.

Yang tinggal di dalamnya mengetahui bagaimana rasanya bangun setiap pagi di sana.

Orang lain melihat seseorang tidak bekerja.

Yang menjalaninya tahu apakah hari-harinya sedang damai, sedang mencari arah, sedang kehilangan semangat, atau sedang belajar menerima keadaan.

Karena itu, mungkin kehidupan tidak perlu selalu dinilai dari apa yang tampak.

Ketika Tidak Ada yang Sedang Dikejar

Tidak semua masa hidup memiliki pencapaian

Ada masa ketika kehidupan dipenuhi tujuan.

Sekolah.

Pekerjaan.

Membangun keluarga.

Mengejar penghasilan.

Menyelesaikan berbagai tanggung jawab.

Membuat rencana.

Mencapai sesuatu.

Lalu suatu hari, beberapa tujuan itu selesai.

Sebagian tidak lagi relevan.

Sebagian tidak tercapai.

Sebagian bahkan tidak lagi diinginkan.

Tiba-tiba kehidupan terasa lebih kosong karena tidak ada sesuatu yang sedang dikejar.

Hari-hari menjadi sederhana.

Bangun.

Makan.

Mengerjakan sedikit hal.

Beristirahat.

Membaca.

Menonton.

Berbicara dengan keluarga.

Tidur.

Besok mengulang lagi.

Dan muncul pertanyaan:

“Apakah hidup hanya begini?”

Tidak sedang menuju sesuatu bukan berarti tidak sedang hidup

Mungkin selama ini kehidupan terlalu sering dibayangkan seperti perjalanan yang harus memiliki tujuan.

Harus ada yang dicapai.

Harus ada kemajuan.

Harus ada sesuatu yang dapat ditunjukkan.

Padahal ada masa ketika seseorang memang tidak sedang menuju pencapaian tertentu.

Ia hanya sedang menjalani kehidupan.

Dan mungkin itu bukan keadaan yang harus segera diperbaiki.

Ada masa untuk membangun.

Ada masa untuk mengejar.

Ada masa untuk berhenti mengejar.

Ada masa untuk menemukan kembali apa yang sebenarnya penting.

Semuanya tetap bagian dari kehidupan.

Tinggal di Dalam Kehidupan yang Sedang Ada

Tidak terus-menerus menunggu kehidupan yang lain

Kadang seseorang menjalani hari ini sambil menunggu kehidupan yang dianggap lebih baik.

Nanti kalau sudah punya pekerjaan.

Nanti kalau sudah punya penghasilan.

Nanti kalau anak sudah besar.

Nanti kalau rumah sudah selesai.

Nanti kalau tubuh sudah pulih.

Nanti kalau masalah ini selesai.

Nanti kalau keadaan berubah.

Tanpa disadari, hari ini hanya menjadi ruang tunggu.

Padahal kehidupan yang sedang dijalani tetap berlangsung.

Pagi tetap datang.

Makanan tetap memiliki rasa.

Orang-orang yang disayangi masih ada.

Tubuh masih membutuhkan perhatian.

Rumah masih menjadi tempat berteduh.

Ada banyak hal yang sebenarnya sedang terjadi sekarang.

Tinggal bukan berarti menyerah

Tinggal di dalam kehidupan yang sedang dijalani bukan berarti pasrah terhadap segala sesuatu.

Bukan berarti tidak boleh memiliki keinginan.

Bukan berarti berhenti memperbaiki keadaan.

Bukan berarti menolak perubahan.

Seseorang tetap boleh mencari pekerjaan.

Tetap boleh ingin memiliki penghasilan.

Tetap boleh membuat rencana.

Tetap boleh belajar.

Tetap boleh berharap hidup menjadi lebih baik.

Hanya saja, sambil melakukan semua itu, kehidupan hari ini tidak perlu dianggap sebagai kehidupan yang gagal hanya karena belum menjadi kehidupan yang diinginkan.

Ada perbedaan antara:

“Saya sedang menuju sesuatu.”

dan

“Saya baru akan hidup setelah sampai ke sana.”

Yang pertama memberi arah.

Yang kedua membuat hari ini terasa tidak pernah cukup.

Cara Tinggal dengan Lebih Utuh

Merawat hal-hal yang memang ada

Ketika tidak banyak yang bisa dibanggakan, mungkin perhatian dapat dialihkan kepada hal-hal yang memang ada.

Tubuh yang masih perlu dirawat.

Rumah yang masih menjadi tempat pulang.

Orang-orang yang masih dapat diajak berbicara.

Tanaman yang perlu disiram.

Makanan yang perlu disiapkan.

Buku yang belum selesai dibaca.

Pagi yang datang tanpa diminta.

Hal-hal itu mungkin terlihat terlalu sederhana untuk disebut pencapaian.

Tetapi kehidupan memang tersusun dari banyak hal sederhana.

Tidak semuanya harus menjadi prestasi.

Menjalani hari tanpa terus menilainya

Ada kebiasaan untuk menilai hari.

Hari ini produktif atau tidak?

Ada hasil atau tidak?

Menghasilkan uang atau tidak?

Menyelesaikan banyak hal atau tidak?

Bermanfaat atau tidak?

Pertanyaan seperti itu berguna pada waktu tertentu.

Tetapi jika setiap hari selalu diperiksa seperti laporan kerja, kehidupan bisa terasa melelahkan.

Ada hari yang cukup dijalani.

Tidak istimewa.

Tidak produktif.

Tidak menghasilkan sesuatu yang dapat dicatat.

Tetapi tetap merupakan bagian dari kehidupan.

Mungkin sesekali sebuah hari boleh hanya menjadi sebuah hari.

Membuat ruang untuk menikmati yang tidak menghasilkan

Secangkir kopi tidak perlu menghasilkan apa-apa.

Membaca buku tidak selalu harus menghasilkan pengetahuan baru.

Memandang hujan tidak perlu menghasilkan inspirasi.

Duduk di halaman tidak harus menjadi latihan mindfulness.

Berjalan pagi tidak harus menjadi bagian dari target kebugaran.

Ada kegiatan yang cukup dilakukan karena terasa menyenangkan.

Karena manusia bukan mesin yang harus terus menghasilkan sesuatu.

Ada bagian kehidupan yang memang hanya perlu dinikmati ketika sedang berlangsung.

Ketika Kehidupan Tidak Menghasilkan Penghasilan

Uang penting, tetapi bukan seluruh ukuran diri

Penghasilan memang penting.

Kebutuhan hidup tetap membutuhkan biaya.

Kemandirian finansial juga merupakan sesuatu yang patut diperjuangkan ketika memungkinkan.

Namun ada masa ketika seseorang belum menghasilkan.

Ada yang sedang mencari pekerjaan.

Ada yang berhenti bekerja.

Ada yang memilih mengurus keluarga.

Ada yang sudah pensiun.

Ada yang sedang berada dalam keadaan yang membuat penghasilan bukan hal yang sedang dikejar.

Keadaan itu dapat membuat seseorang merasa tidak berguna.

Terutama ketika dunia begitu mudah menghubungkan nilai seseorang dengan pekerjaan dan penghasilan.

Tetapi manusia tidak menjadi berharga hanya ketika menghasilkan uang.

Ada banyak hal yang tidak masuk ke dalam rekening

Merawat orang yang disayangi tidak selalu menghasilkan uang.

Mendengarkan seseorang tidak menghasilkan uang.

Mendoakan keluarga tidak menghasilkan uang.

Menjaga rumah tidak menghasilkan uang.

Membaca sebuah buku tidak menghasilkan uang.

Menulis sesuatu yang hanya dibaca beberapa orang mungkin juga tidak menghasilkan uang.

Tetapi kehidupan tidak menjadi kosong hanya karena semuanya tidak memiliki nilai ekonomi.

Ada hal-hal yang nilainya memang tidak dapat dimasukkan ke dalam angka.

Ketika Tidak Menjadi Siapa-Siapa

Mungkin tidak perlu selalu menjadi “seseorang”

Ada pertanyaan yang sering muncul:

“Sekarang menjadi apa?”

Seolah-olah kehidupan harus memiliki sebuah nama yang dapat dibanggakan.

Guru.

Pengusaha.

Penulis.

Pemimpin.

Pemilik usaha.

Profesional.

Dan banyak nama lainnya.

Nama-nama itu tentu penting dalam keadaan tertentu.

Tetapi ada kehidupan yang tidak membutuhkan gelar besar agar terasa berarti.

Ada seseorang yang hanya ingin menjadi dirinya sendiri.

Menjalani hari.

Merawat apa yang dipercayakan kepadanya.

Menikmati hal-hal sederhana.

Belajar ketika ingin belajar.

Berkarya ketika ada sesuatu yang ingin dibuat.

Beristirahat ketika memang perlu.

Dan tetap menjadi manusia tanpa harus terus-menerus menjelaskan kepada dunia sedang menjadi siapa.

Tidak menjadi siapa-siapa di mata dunia bukan berarti tidak berarti

Mungkin ada masa ketika dunia tidak memberikan banyak tepuk tangan.

Tidak ada yang bertanya apa pencapaian terbaru.

Tidak ada yang menunggu karya berikutnya.

Tidak ada yang melihat apa yang dilakukan sepanjang hari.

Anehnya, justru pada masa seperti itu seseorang dapat mulai bertanya:

“Kalau tidak ada yang melihat, bagaimana saya ingin menjalani hidup?”

Pertanyaan itu mungkin tidak mudah.

Tetapi bisa membawa seseorang kembali kepada hal-hal yang lebih jujur.

Apa yang memang disukai?

Apa yang ingin dijaga?

Siapa yang ingin tetap dekat?

Bagaimana ingin memperlakukan diri sendiri?

Apa yang ingin tetap dipercayakan kepada Allah?

Mungkin kehidupan mulai terasa milik sendiri, bukan sekadar pertunjukan untuk dinilai orang lain.

Tetap Memiliki Hubungan dengan Allah

Hidup tidak hanya tentang apa yang terlihat

Ada hal-hal dalam kehidupan yang tidak dapat diukur dengan pencapaian.

Ibadah.

Kesabaran.

Syukur.

Doa.

Kejujuran.

Menjaga hati.

Berusaha tetap baik ketika keadaan tidak sesuai harapan.

Semua itu mungkin tidak terlihat oleh orang lain.

Tetapi bagi seorang Muslim, kehidupan tidak berhenti pada apa yang dapat dilihat dan dihitung.

Ada hubungan dengan Allah yang tetap berlangsung bahkan ketika kehidupan dunia sedang tidak banyak menghasilkan sesuatu.

Ada nilai dalam menjalani yang dipercayakan

Mungkin kehidupan yang sekarang tidak sesuai dengan gambaran yang dahulu dibayangkan.

Tetapi kehidupan tetap merupakan sesuatu yang dipercayakan.

Tubuh.

Waktu.

Rumah.

Keluarga.

Kesempatan untuk berbuat baik.

Bahkan hari yang sangat biasa.

Menjalani semua itu dengan baik mungkin bukan pencapaian yang bisa dipajang.

Tetapi tetap memiliki makna.

Barangkali Hidup Tidak Harus Selalu Menjadi Lebih Besar

Ada masa ketika kehidupan perlu berkembang.

Tetapi ada pula masa ketika kehidupan hanya perlu menjadi lebih dihayati.

Lebih benar-benar hadir ketika makan.

Lebih memperhatikan ketika berbicara.

Lebih mengenali tubuh.

Lebih menikmati pagi.

Lebih menghargai orang yang masih ada.

Lebih lembut kepada diri sendiri.

Lebih tenang menjalani sesuatu yang sederhana.

Bukan memperbesar kehidupan.

Tetapi tinggal di dalamnya.

Mungkin itu yang sering terlewat.

Kita sibuk memikirkan kehidupan yang ingin dimiliki sampai lupa bahwa kehidupan yang sedang ada juga membutuhkan kehadiran.

Hari ini mungkin bukan kehidupan yang dibayangkan.

Mungkin tidak ada pencapaian besar.

Tidak ada pekerjaan yang dibanggakan.

Tidak ada penghasilan yang banyak.

Tidak ada urusan besar yang sedang dikerjakan.

Tidak ada yang istimewa untuk diceritakan.

Tetapi masih ada pagi.

Masih ada tubuh yang perlu dirawat.

Masih ada makanan yang dapat dinikmati.

Masih ada seseorang yang dapat disapa.

Masih ada buku yang dapat dibaca.

Masih ada langit yang dapat dipandang.

Masih ada doa yang dapat dipanjatkan.

Masih ada Allah.

Dan mungkin untuk hari ini, itu sudah cukup.

Bukan berarti kehidupan tidak akan berubah.

Bukan berarti tidak boleh menginginkan lebih.

Bukan berarti harus tinggal selamanya dalam keadaan yang sama.

Hanya saja, sambil menunggu perubahan datang, jangan sampai kehidupan hari ini terlewat begitu saja karena terlalu sibuk menunggu kehidupan yang lain.

Sebab mungkin hidup bukan hanya tentang sampai ke suatu tempat.

Kadang hidup juga tentang belajar tinggal dengan baik di tempat yang sedang diberikan.

Dan jika hari ini belum menjadi apa-apa, tidak apa-apa.

Hari ini tetap sebuah kehidupan.

Jalani.

Rawat.

Rasakan.

Syukuri apa yang memang masih ada.

Dan biarkan hari berikutnya datang pada waktunya.


Ilustrasi: Koleksi Makna dan Kreatif, dibuat dengan bantuan AI.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kehidupan dan Harapan yang Tidak Berisik

Memaafkan Diri dan Pulang Utuh (3)

Ada Waktu untuk Tidak Melakukan Apa-Apa