Ketika Peran Pergi, Nilai Diri Ikut Terasa Memudar
![]() |
| Sumber Gambar: AI Generated |
"Ketika peran pergi, nilai diri ikut terasa memudar. Bukan karena diri menjadi kurang, tetapi karena selama ini arti diri terlalu dekat dengan apa yang dikerjakan."
Ada masa dalam hidup ketika peran yang dulu begitu melekat perlahan menghilang. Perubahan ini tidak selalu datang dengan kejadian besar, tapi dampaknya terasa nyata. Hari-hari yang dulu penuh tanggung jawab kini terasa lebih sepi, dan di sela-sela itu muncul perasaan yang sulit dijelaskan: seolah nilai diri ikut berkurang.
Perasaan ini tidak selalu muncul sebagai pikiran yang jelas, tapi lebih sebagai rasa yang mengendap. Rasa tidak sepenting dulu, tidak seguna dulu, tidak sekuat dulu. Padahal, yang berubah sebenarnya adalah peran, bukan keberadaan sebagai manusia.
Peran dan Cara Kita Menilai Diri
Sejak lama, banyak orang terbiasa mengukur diri dari apa yang dilakukan. Dari pekerjaan, dari tanggung jawab, dari peran dalam keluarga, dan dari seberapa banyak orang lain bergantung.
Selama peran itu ada, rasa percaya diri sering ikut terjaga. Ada kepastian bahwa diri ini punya fungsi dan tempat. Namun ketika peran itu berubah, cara lama menilai diri tidak lagi bekerja dengan baik.
Di titik inilah, nilai diri terasa goyah, meski sebenarnya kemampuan dan pengalaman tetap ada.
Mengapa Hilangnya Peran Bisa Terasa Menyakitkan
Karena Peran Menjadi Bagian dari Identitas
Tanpa disadari, peran bukan hanya aktivitas, tapi juga bagian dari cara seseorang mengenal dirinya sendiri. Perkenalan sering dimulai dari apa yang dikerjakan, bukan dari siapa dirinya sebagai manusia.
Saat peran itu pergi, bukan hanya jadwal yang berubah, tapi juga gambaran tentang diri. Identitas yang dulu terasa jelas, kini perlu dibangun ulang.
Proses ini tidak selalu mudah, karena menyentuh bagian paling dalam dari rasa percaya diri.
Karena Rasa Dibutuhkan Ikut Berkurang
Peran sering datang bersama rasa dibutuhkan. Ada yang menunggu, ada yang bergantung, ada yang mengandalkan. Semua itu memberi rasa bahwa keberadaan memberi dampak.
Ketika peran berubah, rasa dibutuhkan juga ikut berkurang. Di sinilah muncul perasaan seolah diri menjadi kurang penting, padahal kenyataannya hubungan dan kebutuhan hanya sedang berubah bentuk.
Perubahan Hidup yang Menggeser Cara Melihat Diri
Perubahan peran bisa datang dari banyak hal. Anak yang sudah mandiri, pekerjaan yang selesai, kondisi tubuh yang berbeda, atau kehilangan orang terdekat bisa mengubah posisi seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
Semua ini tidak hanya mengubah rutinitas, tetapi juga mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri. Hal-hal yang dulu menjadi sumber kebanggaan kini tidak lagi menjadi bagian dari hari-hari.
Di fase ini, wajar jika muncul kebingungan tentang siapa diri ini sekarang.
Nilai Diri Tidak Hilang, Tapi Cara Menilainya Perlu Berubah
Meski terasa memudar, nilai diri sebenarnya tidak ikut pergi bersama peran. Yang berubah adalah cara melihat dan merasakannya.
Jika selama ini nilai diri diukur dari seberapa banyak yang dilakukan untuk orang lain, maka ketika aktivitas itu berkurang, rasa berharga ikut menurun. Padahal, keberadaan tidak hanya soal fungsi, tetapi juga soal menjadi manusia yang hadir, peduli, dan hidup dengan sadar.
Belajar memisahkan nilai diri dari peran membutuhkan waktu. Ini bukan sekadar memahami dengan pikiran, tetapi juga menerima dengan perasaan.
Masa Mencari Arti Diri yang Baru
Fase setelah kehilangan peran sering menjadi masa pencarian. Mencari hal yang masih membuat hidup terasa hidup. Mencari kegiatan yang memberi rasa bermakna, meski tidak lagi dalam bentuk tanggung jawab besar.
Di masa ini, tidak jarang muncul rasa ragu dan tidak percaya diri. Namun justru di sinilah kesempatan untuk mengenal diri lebih jujur, tanpa harus selalu tampil sebagai sosok yang kuat dan dibutuhkan.
Proses ini tidak selalu cepat. Ada hari-hari yang terasa maju, ada juga yang terasa stagnan. Semua itu bagian dari perjalanan.
Belajar Menghargai Diri di Fase yang Berbeda
Menghargai diri di fase hidup yang baru membutuhkan sudut pandang yang berbeda. Bukan lagi dari seberapa sibuk, tetapi dari seberapa mampu merawat diri, menjaga kesehatan, dan tetap terbuka pada kehidupan.
Hal-hal kecil mulai menjadi penting. Menikmati pagi yang tenang, melakukan hobi, atau sekadar memberi waktu untuk istirahat tanpa rasa bersalah.
Semua ini adalah bentuk nilai diri yang tidak selalu terlihat, tetapi sangat nyata.
Menjadi Diri Lagi Tanpa Harus Kembali ke Versi Lama
Menjadi diri lagi tidak berarti harus kembali seperti dulu. Karena hidup memang bergerak, dan diri pun ikut berubah.
Menjadi diri lagi berarti menerima bahwa versi yang sekarang berbeda, tetapi tetap layak dihargai. Bahwa nilai diri tidak hilang hanya karena peran lama tidak lagi ada.
Ketika peran pergi dan nilai diri terasa memudar, mungkin yang sebenarnya sedang terjadi adalah proses belajar melihat diri dengan cara yang lebih luas dan lebih lembut.
Dan mungkin, di sanalah awal dari hubungan yang lebih jujur dengan diri sendiri.

Komentar
Posting Komentar