Tidak Bekerja Bukan Berarti Tidak Berguna, Tapi Rasa Itu Sering Sulit Diyakini
![]() |
| Sumber Gambar: AI Generated |
"Tidak bekerja bukan berarti tidak berguna. Namun rasa itu sering sulit diyakini, apalagi saat dunia terbiasa menilai dari penghasilan dan jabatan."
Ada masa dalam hidup ketika pekerjaan berhenti, atau peran yang dulu dijalani tidak lagi ada. Di masa itu, muncul satu perasaan yang sering diam-diam hadir: merasa tidak lagi berguna.
Padahal, secara logika, tidak bekerja tidak sama dengan tidak berharga. Namun perasaan tidak selalu mengikuti logika. Terutama ketika lingkungan terbiasa mengukur nilai seseorang dari apa yang dikerjakan dan seberapa besar penghasilan yang dihasilkan.
Di titik ini, banyak orang mulai meragukan dirinya sendiri.
Dunia Terbiasa Menilai dari Pekerjaan dan Penghasilan
Pertanyaan yang Sering Datang
Dalam banyak percakapan, pertanyaan tentang pekerjaan sering menjadi pembuka. “Sekarang kerja apa?” atau “lagi sibuk apa?” seolah menjadi cara cepat untuk mengenali seseorang.
Tanpa sadar, pertanyaan ini juga membentuk cara kita menilai diri sendiri. Saat tidak punya jawaban yang dianggap “menarik”, muncul rasa canggung, bahkan rasa kecil.
Bukan karena tidak melakukan apa-apa, tapi karena yang dilakukan tidak masuk ke ukuran yang biasa dipakai orang banyak.
Ketika Nilai Diri Ikut Bergantung pada Status
Jika terlalu lama hidup dengan ukuran seperti ini, wajar jika saat tidak bekerja, rasa percaya diri ikut turun. Seolah nilai diri ikut berhenti bersama berhentinya pekerjaan.
Padahal, manusia tidak berhenti menjadi manusia hanya karena tidak lagi punya jabatan atau penghasilan tetap. Namun, membangun keyakinan ini di dalam hati tidak selalu mudah.
Kesibukan dan Pekerjaan Pernah Menjadi Sumber Rasa Berarti
Merasa Dibutuhkan Memberi Rasa Hidup
Saat bekerja atau memegang peran besar, sering ada rasa dibutuhkan. Ada yang menunggu hasil kerja, ada yang mengandalkan keputusan, ada yang terpengaruh oleh kehadiran.
Rasa dibutuhkan ini memberi rasa hidup. Memberi perasaan bahwa keberadaan memberi dampak.
Ketika itu hilang, bukan hanya rutinitas yang berubah, tapi juga rasa percaya diri.
Dari Jadwal Padat ke Hari yang Lebih Lengang
Hari yang dulu penuh agenda kini menjadi lebih sepi. Waktu yang dulu terasa kurang, sekarang terasa panjang.
Perubahan ini bisa terasa membingungkan. Di satu sisi tubuh lebih tenang, tapi di sisi lain hati bertanya-tanya, apakah masih ada yang bisa dilakukan yang benar-benar berarti.
Mengapa Rasa Tidak Berguna Sulit Hilang
Karena Perasaan Tidak Hilang dengan Penjelasan
Banyak orang bisa berkata pada diri sendiri, “aku tetap berharga meski tidak bekerja.” Tapi mengucapkannya tidak selalu langsung membuat perasaan ikut percaya.
Perasaan sering butuh pengalaman baru untuk berubah, bukan hanya kata-kata penguat.
Itulah sebabnya rasa tidak berguna bisa tetap ada, meski pikiran tahu bahwa itu tidak sepenuhnya benar.
Karena Lingkungan Tidak Selalu Mendukung
Komentar kecil dari orang lain, candaan, atau perbandingan dengan orang yang masih aktif bekerja bisa tanpa sengaja memperkuat rasa rendah diri.
Bukan karena orang lain berniat jahat, tapi karena ukuran hidup yang dipakai memang masih sangat berpusat pada produktivitas dan penghasilan.
Nilai Diri Tidak Selalu Datang dari Hal yang Terlihat
Hal-Hal Kecil yang Sering Tidak Dianggap
Merawat rumah, menjaga kesehatan, menemani keluarga, menulis, membaca, belajar hal baru, atau sekadar menjaga diri tetap waras di fase sulit, semua itu adalah kerja yang nyata.
Hanya saja, kerja-kerja ini jarang diberi label “berprestasi”.
Padahal, tanpa hal-hal ini, hidup juga tidak akan berjalan dengan baik.
Bertahan di Fase Sulit Juga Bentuk Kekuatan
Ada fase hidup yang memang bukan tentang berlari, tapi tentang bertahan. Tentang menjaga diri agar tidak jatuh lebih jauh.
Di fase ini, tidak bekerja bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Justru energi dipakai untuk hal yang tidak terlihat: menata ulang hidup, menerima perubahan, dan memulihkan diri.
Belajar Menghargai Diri Tanpa Harus Selalu Menghasilkan
Mengubah Cara Melihat Arti “Berguna”
Berguna tidak selalu berarti menghasilkan uang atau prestasi. Berguna juga bisa berarti tetap hadir, tetap peduli, dan tetap berusaha hidup dengan baik di kondisi yang ada.
Mengubah cara melihat arti berguna ini butuh waktu, apalagi jika sejak lama hidup dibentuk oleh tuntutan untuk selalu produktif.
Mengisi Hari dengan Hal yang Memberi Rasa Hidup
Pelan-pelan, sebagian orang mulai menemukan bahwa ada banyak cara untuk merasa hidup tanpa harus kembali ke pola lama.
Menulis, belajar, berkebun, merawat hewan, atau berbagi cerita dengan orang lain bisa memberi rasa bahwa hari tetap punya arti.
Tidak harus besar, yang penting terasa nyata di hati.
Tidak Bekerja Adalah Fase, Bukan Identitas
Hidup Bergerak dalam Beberapa Bab
Tidak bekerja bukanlah identitas seumur hidup, tapi salah satu bab dalam perjalanan panjang. Ada masa sibuk, ada masa berhenti, ada masa mencari arah baru.
Setiap fase membawa pelajaran yang berbeda, dan semuanya bagian dari perjalanan menjadi diri sendiri yang utuh.
Nilai Diri Tetap Ada, Meski Peran Berubah
Ketika peran berubah, nilai diri tidak ikut menghilang. Yang perlu berubah adalah cara melihat diri di fase yang baru ini.
Mungkin hari ini belum ada jawaban besar tentang arah hidup, tapi merawat diri dan tetap melangkah, sekecil apa pun, sudah merupakan bentuk keberanian.
Dan itu tidak pernah sia-sia.

Komentar
Posting Komentar